the luck factor

sains di balik mengapa beberapa orang selalu merasa beruntung

the luck factor
I

Pernahkah kita punya satu teman yang hidupnya seperti dilindungi semacam medan gaya pelindung magis? Dia yang selalu menang giveaway, dapat tempat parkir tepat di depan pintu mall, atau tiba-tiba ditawari pekerjaan impian saat lagi ngopi iseng. Di saat yang sama, kita mungkin baru saja tersandung batu yang sama dua kali dan kehujanan pas baru selesai cuci motor. Kita sering menyebut rentetan kejadian itu sebagai "keberuntungan". Tapi, apa iya keberuntungan itu murni soal takdir yang jatuh dari langit? Atau jangan-jangan, ada penjelasan sains di balik mengapa beberapa orang seolah punya cheat code kehidupan?

II

Kalau kita mundur sedikit ke lembaran sejarah, manusia sudah ribuan tahun terobsesi menjinakkan keberuntungan. Nenek moyang kita memakai jimat gigi beruang, melempar koin ke sumur, sampai mengalungkan kaki kelinci berbulu. Semua itu dilakukan karena otak kita sangat tidak nyaman dengan ketidakpastian. Kita butuh ilusi bahwa kita memegang kendali atas nasib. Namun, di akhir tahun 90-an, seorang psikolog asal Inggris bernama Richard Wiseman memutuskan untuk berhenti melihat jimat dan mulai melihat isi kepala manusia. Dia mengumpulkan ratusan relawan. Setengahnya adalah orang-orang yang mengaku selalu sial, dan setengahnya lagi adalah mereka yang merasa hidupnya selalu mulus. Wiseman ingin tahu, apakah perbedaan nasib ini murni ada di garis tangan mereka, atau di cara otak mereka memproses realitas?

III

Untuk mengujinya, Wiseman melakukan sebuah eksperimen sederhana yang kini menjadi legenda di dunia psikologi. Dia memberi setiap relawan sebuah koran tebal dan meminta mereka menghitung berapa jumlah foto di dalamnya. Kelompok yang merasa sial butuh waktu sekitar dua menit untuk menghitung semuanya secara manual. Tapi, kelompok yang merasa beruntung hanya butuh waktu beberapa detik. Kok bisa? Ternyata, di halaman kedua koran tersebut, Wiseman telah mencetak tulisan raksasa yang memenuhi setengah halaman: "BERHENTI MENGHITUNG. ADA 43 FOTO DI KORAN INI." Orang-orang yang sial melewatkan tulisan sebesar gajah itu. Mereka terlalu sibuk memicingkan mata, stres menghitung gambar satu per satu. Secara neurologis, ketegangan dan kecemasan memang menyempitkan fokus visual maupun mental kita. Fenomena ini dikenal dalam sains sebagai inattentional blindness. Pertanyaannya sekarang, kalau orang beruntung bisa melihat apa yang tidak dilihat orang sial, apa sebenarnya rahasia di balik kacamata mental mereka?

IV

Inilah temuan terbesarnya. Keberuntungan bukanlah sihir, melainkan serangkaian kebiasaan psikologis. Setelah bertahun-tahun meneliti, sains menyimpulkan bahwa orang beruntung secara tidak sadar mempraktikkan empat prinsip utama. Pertama, mereka pandai menciptakan dan menyadari peluang baru. Otak mereka rileks, sehingga radarnya menyala lebih lebar untuk menangkap hal-hal tak terduga. Kedua, mereka membuat keputusan yang tepat dengan mendengarkan intuisi. Ketiga, mereka punya ekspektasi bahwa masa depan mereka akan cerah, yang ironisnya membuat mereka lebih gigih saat gagal. Dan keempat, ini yang paling menarik, mereka punya kemampuan mengubah nasib buruk menjadi baik. Saat orang beruntung kecelakaan dan patah kaki, otak mereka tidak meratapi nasib. Mereka justru berkata, "Untung cuma patah kaki, coba kalau leher saya yang patah." Mereka memakai counterfactual thinking—membayangkan skenario alternatif yang lebih buruk—untuk merasa bersyukur, bangkit lebih cepat, dan melangkah maju.

V

Tentu saja, kita tidak bisa mengabaikan bahwa ada hal-hal struktural di dunia ini yang murni di luar kendali kita. Hak istimewa bawaan lahir, krisis ekonomi, atau pandemi global jelas bukan cuma perkara mindset. Sangat wajar kalau kadang kita merasa dunia sedang berkonspirasi untuk menjatuhkan kita. Namun, bagian yang masih bisa kita ubah adalah bagaimana kita merespons realitas yang acak ini. Keberuntungan ternyata mirip seperti otot. Ia bisa dilatih dan dibentuk. Kita bisa mulai dengan sedikit menurunkan bahu kita yang tegang, menarik napas panjang, dan membiarkan diri kita terbuka pada kebetulan-kebetulan kecil di sekitar kita. Mungkin hari ini teman-teman terjebak macet yang menjengkelkan, tapi siapa tahu gara-gara itu kita jadi punya waktu untuk mendengarkan sebuah podcast yang mengubah cara pandang kita. Pada akhirnya, menjadi beruntung bukan berarti hidup tanpa masalah. Menjadi beruntung adalah soal seberapa mahir kita melihat celah cahaya di tengah ruangan yang gelap.